Senin, 23 Januari 2012

Jelang Perang Shiffin


Jelang Perang Shiffin (2)
Oleh: Hepi Andi Bastoni

Usai Perang Jamal, Ali bin Abi Thalib kembali ke Kufah untuk mempersiapkan pasukan guna menghadapi tantangan Muawiyah bin Abu Sufyan dari Syam. Kemenangan Ali pada Perang Jamal, menyebabkan penduduk Irak, Iran dan Khurasan menyatakan berdiri sepenuhnya di belakang sang Khalifah.
Apalagi sejak awal, masyarakat umum di tanah Irak dan Iran, mempunyai pandangan simpatik terhadap Ali bin Abi Thalib atas sikapnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar terhadap tiga putri Kaisar Yezdegrid III, yang tertawan waktu penaklukan Madain. Mereka menaruh hormat pada keturunan Ali, terutama pada Husain, perpaduan dari turunan Kaisar Imperium Persia dengan darah turunan Nabi Muhammad saw.
            Balabantuan datang dari Azarbaijin, Iran dan Khurasan. Pada bagian Barat, Muhammad bin Abu Bakar yang telah kembali ke Mesir sehabis mengantarkan saudaranya Aisyah ke Madinah, mempersiapkan pula pasukan untuk menghadapi tantangan dari Syam. Dengan demikian, kedudukan Muawiyah di Syam, terkepung dari segala penjuru.
            Namun mempersiapkan pasukan demikian besar memakan waktu tidak sedikit. Ali harus menunggu mereka dari jarak-jarak jauh. Pasukan itu juga harus mempersiapkan perlengkapan dan perbekalan dalam kurun waktu yang panjang.
            Pada Syawal 36 H/657 M, Khalifah Ali mengirimkan utusan ke Damaskus di bawah pimpinan panglima Jurair bin Abdillah al-Bajili. Ia membawa suatu tuntutan kepada Muawiyah berisikan salah satu di antara dua pilihan: mengangkat baiat terhadap Khalifah Ali atau meletakkan jabatan sebagai Gubernur Syam.
            Muawiyah bin Abu Sufyan sengaja mengulur-ngulur waktu untuk memberikan jawaban yang terakhir. Sementara itu, ia sengaja ingin memberikan kesempatan kepada utusan itu menyaksikan suasana di Syam.
            Muawiyah bin Abu Sufyan menyadari sepenuhnya bahwa Amr bin Ash tidak senang terhadap Khalifah Utsman. Karena itu ia tidak memilih salah satu pihak dalam sengketa yang tengah memuncak kala itu. Namun Muawiyah mempunyai jalan untuk memancing cendikiawan Arab besar itu untuk berdiri di pihaknya. Di sinilah kekalahan strategi politik Ali bin Abi Thalib. Sebab, dia memang seorang militer, bukan seorang negarawan atau politikus. Tersisa kita melihat ‘pertarungan’ politik antara dua jawara Arab: Muawiyah bin Abu Sufyan dan Amr bin Ash. Kita tahu, jauh sebelum masuk Islam, dua tokoh ini benar-benar diandalkan oleh Quraisy.
            Muawiyah mengirim utusan ke Palestina menjemput Amr bin Ash, membawa sepucuk surat. Ahmad al-Yaakubi (wafat 248 H/897 M) dalam Tarikh al Yaakubi jilid I halaman 315 mengabadikan surat Muawiyah bin Abu Sufyan yang berbunyi, “...Adapun kemudian, mengenai peristiwa Ali, Thalhah dan Zubair, niscaya Anda telah mengetahuinya. Ali mengirim Jurair bin Abdillah menjumpaiku supaya mengangkat baiat. Saya menahan diri menunggu kedatangan Anda. Sudilah datang atas lindungan Allah Maha Tinggi.”
            Amr bin Ash, dari kediamannya di Palestina, secara diam-diam terus mengikuti perkembangan politik aktual saat itu. Sekalipun dia sudah menyatakan bersikap non-aktif tapi dia bukan seorang yang bisa tenteram dengan sikap berdiamkan diri. Dalam dirinya mengalir darah militer, politikus, diplomat dan negarawan yang sangat tercatat dalam sejarah.
            Surat Muawiyah datang mengundangnya ke Damaskus. Dia bukan seorang yang bisa buru-buru menentukan sikap. Sejak lama ia melakukan penilaian. Menurutnya, Muawiyah telah menancapkan kukunya di wilayah Syam. Kebijakan pemerintahannya selama ini, membangkitkan simpati penduduk Syam. Bahkan, mereka rela berkorban untuknya.
Di satu sisi, Khalifah Ali didukung berbagai kekuatan heterogen, dengan simpang-siur pendapat di dalamnya. Berjumlah besar memang, tapi tidak memperlihatkan keutuhan. Menurutnya, sekalipun tampaknya pihak Muawiyah berada dalam keadaan terkepung, tapi pada hakikatnya berada pada pihak yang unggul. Dalam kondisi demikian, Amr bin Ash meminta pendapat kedua putranya: Abdullah bin Amr dan Muhammad bin Amr.
            Sejarah mencatat jawaban putranya yang tertua, Abdullah bin Amr yang berbunyi, “Wahai ayahku, Rasulullah saw wafat, ia merasa puas denganmu. Abu Bakar dan Umar wafat, keduanya merasa puas. Jangan agama dirusakkan oleh duniawi yang sekejap yang akan ditawarkan Muawiyah...”
Abdullah bin Amr (wafat 65 H\685 M) itu, demikian Dr Muhammad Khudri Beik dalam Tarikhut Tasyri’il-Islami[1] menyebutkan, ia tokoh besar pada masa belakangan di kalangan Fuqaha Amshar. Ia seorang tokoh yang lebih mengutamakan agamawi daripada duniawi.[2]
            Pendapat putranya yang termuda, Muhammad bin Amr, jauh berbeda dengan pendapat Abdullah bin Amr. Ia memandang undangan Muawiyah itu sebagai kesempatan terbaik bagi ayahnya untuk tawar menawar. Hal itu disebabkan Muhammad bin Amr seperti juga ayahnya, adalah seorang militer dan politikus.
            Amr menuruti saran putra termudanya. Ia berangkat menuju Damaskus. Berlangsung perundingan antara Muawiyah dengan Amr. Muawiyah memaparkan duduk situasi selengkapnya dan meminta Amr bin Ash berdiri di pihaknya. Tarikh al-Yaakubi mencatat jawaban Amr saat itu, “Tidak, demi Allah. Aku tidak akan menyerahkan agamaku kepadamu sampai aku beroleh ketentuan tentang duniamu!”
            Muawiyah menyatakan, target akhir baginya ialah jabatan khilafah. Muawiyah ingin menjadi khalifah! Itulah target Muawiyah yang ia kemukakan kepada Amr. Ia pun mengikrarkan janji, jika menang dalam sengketa ini, kedudukan Amr bin Ash akan dipulihkan kembali untuk menjabat gubernur Mesir dan Tripoli.
            Janji yang diikrarkan itu diterima baik oleh Amr. Jawaban terakhir lantas diberikan kepada Panglima Jurair bin Abdillah al-Bajili, utusan pihak Khalifah Ali, bahwa Muawiyah bin Sufyan menolak semua pilihan itu dan akan menyelesaikan sengketa melalui pedang!
            Atas saran Amr bin Ash, sejak itu Muawiyah mengumumkan dirinya sebagai khalifah, dengan panggilan Khalifah Muawiyah. Alasannya, Ali bin Abi Thalib dianggap tidak memenuhi dan tidak menjalankan tugasnya sebagai khalifah dalam menegakkan hukum sepanjang syariat Islam. Sejarah mencatat bahwa baiat berlangsung di seluruh wilayah Syam dan Palestina.
            Dengan mengumumkan diri sebagai khalifah, menurut tilikan Amr bin Ash, perjuangan sebenarnya baru mempunyai landasan kuat. Ia belajar banyak dari Zubair, Thalhah dan Aisyah saat menentang Ali bin Abi Thalib. Jika dalam melakukan perlawanan, Muawiyah masih dalam posisi sebagai gubernur Syam, maka dia akan dicap perusuh terhadap pemerintahan yang sah. Ia akan dianggap pemberontak yang harus dibasmi.
            Demikianlah, dua tokoh politik berpadu, menyatukan strategi, berkoalisi dengan perjanjian yang telah disepakati, untuk mewujudkan ijtihad mereka secara bersama. Bagaimana tanggapan pihak Khalifah Ali bin Abi Thalib mendapatkan surat keputusan Muawiyah bin Abi Sufyan? Nantikan tulisan berikutnya, insya Allah.


[1] Cetakan 1930 halaman 159
[2] Untuk lebih jelas tentang sosok Abdullah bin Amr bin Ash ini, silakan rujuk buku 101 Sahabat Nabi karya Hepi Andi Bastoni, Pustaka al-Kautsar, Cetakan Pertama September 2002 halaman 19-26.

1 komentar: